Bisnis UMKM Kue Berbentuk Maneqin dan Social Media

jasa seo dan internet marketing

bisnisukmonline.com –  BISNIS KREASI UNIK KUE SOSIAL MEDIA Facebook, Instagram, Path, Whatsapp, dan Blackberry Messenger, seluruhnya bertekstur renyah dengan rasa yang manis dan gurih. Ya, media social ini berbeda. Bukan untuk ajang eksistensi di dunia maya, melainkan untuk mengisi perut. Yumm…!

Dibalik kue-kue kering berbentuk logo media social ini adalah Yuyun. Idenya berawal dari tingginya pengguna media social di Indonesia. Jadilah kue lebaran unik ini diproduksinya. Inovasinya dimulai sejak tiga bulan yang lalu. Menjelang lebaran, kue media sosialnya laris manis di pasaran. Pembelinya tak hanya warga Yogyakarta, tapi juga Samarinda, Jakarta hingga Palembang.

“Enggak anak muda, nggak mahasiswa, nggak orang tua, itu kan sukanya kan medsos ya, berkomunikasi lewat media social. Ini adalah cara bagaimana saya menyampaikan biar media social ini bisa saya buat kue kering tahun ini.” Tutur Yuyun mngenai alasannya memilih logo media social sebagai andalan jualan kue keringnya.

Pesanan melimpah, keuntungan pun berlipat. Sejak awal mencoba, Yuyun telah memproduksi tujuh ratus lusin kue kering. Dari usaha rumahannya ini, Yuyun akhirnya mempekerjakan lima orang karyawan. Omzetnya pun mencapai ratusan juta rupiah.

Selain rasa khas kue kering yang manis gurih, pembeli tertarik memborong karena bentuknya yang tak biasa. “saya langganan membli cookies di sini karena memang cookiesnya mengikuti perkembangan zaman, kekinian banget. Bentuk-bentuknya unik-unik, sperti yang terbaru ini, karakter-karakter medsos, seperti Facebook, Instagram.” Tutur Dona, pelanggan yang sedang memborong kue di gerai milik Yuyun.

Bisnis UMKM Kue Berbentuk Maneqin dan Social Media  Tak hanya kue kering berlogo media social, Yuyun juga menjual kue dengan karakter kartun. Kue-kue keringnya juga bisa dipesan sebagai hantaran untuk orang terkasih. Ingin menghidangkan kue kering unik saat lebaran? Gerai Yuyun dapat dikunjungi di daerah Karang Kanjen, Yogyakarta. Harganya mulai dari tiga puluh lima ribu rupiah per toples, dan sesuai dengan bentuknya, Yuyun juga memasarkan kue-kue keringnya di media social seperti Instagram dan Facebook.

baca juga 8 Cara Membuat Email Marketing Lebih Efektif Untuk Bisnis Online Anda

BISNIS KREASI UNIK KUE MANEKIN

Manekin atau patung peraga busana pasti sudah biasa dijumpai di jalan-jalan pusat perbelanjaan. Apalagi ketika ingin membeli baju, yang pertama dilihat adalah ketika baju itu dipajang di satu manekin. Pasti akan lebih menarik karena akan lebih terlihat bentuk dan desainnya. Jadi akan mudah untuk bisa membayangkannya, bukan?

Namun, bukan manekin seperti itu yang akan membuat anda lebih tertarik melainkan manekin unik yang bisa dimakan. Perancang yang membuatnya tentu bukan perancang busana, tapi dia adalah seorang “perancang kue”.

Kalau manekin yang biasa ada di dalam toko baju boleh dipegang, tapi tidak bisa dimakan. Tetapi kalau manekin unik dan lembut ini bisa dimakan. Disini kita bisa mendesain pakaian sesuai selera dan ukuran yang diinginkan, bukan untuk dipakai melainkan untuk dimakan. Inilah kue berbentuk manekin atau patung peraga busana, lengkap dengan gaun cantiknya.

Keunikannya membuat kue ini menarik para pembeli, salah satunya Aini. Bukan satu kali saja dia memesan kue manekin. Selain untuk pribadi, kue ini sering Aini pesan untuk keluarga maupun kerabatnya. “Soalnya unik. Soalnya kan jarang yang pesan yang kayak gitu-gitu. Lucu aja, aku suka.” Jawab Aini ketika ditanya kenapa menyukai kue manekin ini.

Kali ini Aini memesan kue manekin dengan desain gaun pesta. Pertama kali, pembuatnya akan membuat sketsa desain baju, layaknya seorang desainer yang merancang pakaian. Daya tariknya bukan hanya dari ide dan bentuk kue, namun kualitas rasanya pun berhasil memikat peminatnya. “Di sini beda banget. Dari krimnya aja beda. Di sini rasanya enak banget. Pokoknya beda.” Tambah Aini mengenai kue yang pernah dia jajal.

Kue manekin muncul saat tahun 2012. Kue berbentuk patung peraga ini menjadi trend di negeri Paman Sam. Toko kue Sugar Ruinzy di Amerika Serikat menjadi pelopornya. Kemudian di tahun 2013, trend ini berkembang hingga ke Negara Inggris. Hal ini yang menginspirasi Prima Perdana untuk membuat kue serupa. Tahun 2014, bisnis toko kue Lamia miliknya, Ia kembangkan dengan desain unggulan kue manekin.

Dalam prosesnya, Prima juga menggoreskan bakat menggambarnya untuk mendesain kue sesuai pesanan pelanggan. “Kita mendesain kue berdasarkan requirement dari customer. Beda dengan pembuat kue, dimana hanya membuat aja dengan contoh-contoh yang sudah ada. Kalau kita, setiap kita membuat kue, walaupun itu sama mannequin cake atau tas, kita selalu membuat yang berbeda.” Desain khusus bagi setiap pelanggan menjadi nilai tambah bagi produk bisnisnya. Itu sebabnya kue buatannya selalu berbeda-beda.

Kue manekin menggunakan bahan roti sebagai dasarnya. Proses pembuatan awalnya tak banyak berbeda dengan kue pada umumnya. Setelah bagian dasar selesai, kue dilapisi lelehan coklat di setiap bagiannya. Lapisan ini berguna agar bahan dasar kue lebih mudah dibentuk.

Setelah bentuk dasr kue selesai, waktunya untuk menghias. Tahap ini perlu ketelitian agar setiap detail hiasannya sesuai desain awal, dan tentunya serupa dengan manekin busana asli. Semua hiasan ini menggunakan pasta gula atau fondant jadi aman untuk dikonsumsi. “Semua bisa dimakan. Karena kita nggak pakai pengawet, jadi setelah diantar, biasanya setelah tiga hari sudah basi.”

Untuk ukuran kue yang besar atau seukuran manekin biasa, butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Mulai dari gambar sketsa desain hingga proses pembuatan. Dalam membuat satu kue, Prima hanya dibantu oleh satu orang asistennya. Ini dilakukan agar setiap kue manekin pesanan telah lolos pengawasannya.

Bentuknya unik tak seperti kue pada umumnya. Itu sebabnya Prima memeragakan kepada pelanggannya cara untuk memotong kue buatannya, agar tetap mudah untuk dinikmati.

Dibalik bentuknya yang cantik, kesulitan untuk membuat kue manekin ini serupa bentuk aslinya menjadi tantangan Prima. Seperti membuat patung peraga aslinya, ukuran dan tingginya mulai dari tujuh puluh sentimeter. Inilah salah satu produk unggulannya.

“tantangannya adalah bahwa kita harus membuat semirip mungkin dengan apa yang diinginkan oleh customer. Sedangkan bahan dan lain-lainnya itu sangat terbatas. Karena kita mengutamakan bahwa semuanya edible.”

Untuk kue manekin, Prima menawarkan beragam jenis ukuran. Ada yang ukuran kecil, mulai dari dua puluh lima sentimeter hingga tiga puluh sentimeter. Harganya itu dibanderol tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Sementara ukuran besar yang menyerupai bentuk asli dibanderol dengan harga enam juta rupiah hingga dua belas juta rupiah, tergantung kerumitan desain baju dan bentuknya.

Menjadi perancang kue sudah dilakoni Prima sejak tahun 2012. Bakatnya membuat kue sudah mulai dia asah sejak usia lima tahun. Tidak ada pendidikan khusus yang ia jalani untuk membuat deretan kue dengan bentuk unik ini. Buah karyanya bisa dijumpai di toko kue miliknya di daerah Jati Padang di Jakarta Selatan.

baca juga KISAH KANTIN MAKAN INI, MENUNJUKKAN TEKAD BRAND YANG KUAT

BISNIS KERAJINAN TAS UNIK

Tas cantik telahir dari tangan seorang kreatif bernama Rini Hastuti. Yang uniknya lagi adalah setiap karya yang dibuatnya diperlakukan seperti anak sendiri. Seperti apa kreasi Rini ini? Rasa penasaran anda akan terjawab setelah melihat gambar di bawah ini dan membaca artikelnya.

Muda dan kreatif mungkin itu yang bisa digambarkan dari seorang Rini Hastuti, gadis berusia 23 tahun pemilik brand tas dan dompet handmade, Hasta La Vista. Di kamar kosnya, Rini mengasah keterampilan menjahitnya secara otodidak. Sebagai seorang crafter, Rini punya cirri khas tersendiri pada produknya, yaitu penggunaan kain linen dengan motif vintage. Untuk bahan baku kain linen, Rini mengimpor kain dari luar negeri seperti Negara Jepang dan Amerika Serikat.

 

“Untuk inspirasi dari produk Hasta La Vista, aku biasanya lihat dari music, film, dan internet. Karena basic-nya aku suka vintage, hal itu memengaruhi dalam setiap produk-produk yang aku bikin. Dan setiap produk Hasta La Vista selalu mempunyai namanya mereka sendiri.” Ungkapnya saat ditanya tentang keunikan produknya.

Nama Hasta La Vista berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “selamat tinggal”. Menurut Rini, ucapan selamat tinggal ini ditujukan untuk produk yang sudah laku terjual. Karena Rini selalu menganggap setiap produknya seperti anaknya sendiri.

Tekun dan ulet menjadi kunci keberhasilan Rini dalam menjalankan bisnisnya yang sudah mencapai tahun ke dua. Dalam sebulan, Rini dapat mengerjakan tiga puluh tas sekaligus yang dibanderol dari harga seratus lima puluh ribu sampai empat ratus ribu rupiah.

Dalam memasarkan produknya, Rini memanfaatkan peran media social seperti Facebook, Blog, dan Instagram. Ia juga rajin memantau dan mengupload kreasi terbaru serta berbagi ilmu di blog pribadinya. Bisnis UMKM Kue Berbentuk Maneqin dan Social Media 

jasa seo dan internet marketing