Dari Sentra Handicraft menjadi Desa Produktif Nasional

jasa seo dan internet marketing

Bisnisumkmonline.com  – dari awal memasuki wilayah desa yang masuk dalam Kecamatan Balung Kab. Jember, Jawa Timur ini, gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Sentra Industri Kecil (Handicraft)’ akan menyambut siapa saja yang melewatinya.

Menempuh 25 km perjalanan dari ibukota kabupaten atau sekitar 45 menit, Desa Tutul seakan surga bagi pencinta karya seni berupa handicraft atau kerajinan tangan. Mulai dari tasbih, gelang, hingga bermacam-macam kerajinan kayu.

Perajin handicraft memang menjadi pekerjaan mayoritas kedua bagi warga Tutul, akan tetapi celah pengangguran berhasil ditutup dengan pekerjaan lainnya, meliputi pertanian, peternakan, membuat genteng, hingga membuat minuman. Bahkan, salah satu pengusaha minuman di desa ini berhasil memboyong trophi juara I Siddhakarya tahun 2012 yang diserahkan Gubernur Jawa Timur.

Ketika ditanya mengenai rumor desanya yang tanpa pengangguran, Dra. Hj. Juana, Kepala Desa Tutul tertawa, lalu menjelaskan. “Ya. Memang benar-benar, di sini tidak ada pengangguran sama sekali, kecuali orang-orang yang gak mau kerja dan non-produktif,” jelasnya.

Lebih jauh dia juga mengatakan bahwa perempuan-perempuan di desa ini sudah sangat berdaya, meskipun pekerjaan rumah mulai dari mengurus rumah, mengantar anak sekolah, hingga nonton televisi tetap dijalani. Bahkan, ketika ibu-ibu menunggu anaknya sekolah, mereka menggelar alas duduk dan kadang meronce.

Tak hanya ibu-ibu atau warga yang berusia produktif saja, lansia dan anak-anak penduduk Tutul juga mahir membuat handicraft. “Lansia di sini juga masih semangat sekali, mungkin memang tidak memerlukan tenaga banyak, hanya membuat bulatan saja anak-anak juga bisa.

Dari Sentra Handicraft menjadi Desa Produktif Nasional

Dari Sentra Handicraft menjadi Desa Produktif Nasional

Dan kapan hari pernah dicoba, anak-anak di sini ternyata bener mereka bisa,” ucap perempuan yang berulang tahun tiap tanggal 23 Mei ini. Namun, dia tegaskan anak-anak tersebut tidak menjadi pekerja, melainkan hanya ikut-ikut membuat kerajinan yang tidak memerlukan banyak tenaga.

baca juga begini-cara-benar-promosi-online-untuk-pebisnis/

Karena itulah, budaya ngerumpi yang kerap diidentikkan dengan kaum ibu menjadi pemandangan yang jarang ditemukan di sini. Kalaupun ngerumpi mereka juga bekerja dengan menghasilkan karya kerajinan. Bahkan jika berpacaran selalu diartikan menghabiskan uang, maka di desa ini berlaku sebaliknya. “Kalau pacaran di sini bisa cari uang, pertamanya kerja satu atap, bertemu terus, kemudian pacaran, tapi ‘kan bisa cari uang,” ucap perempuan 45 tahun ini lantas tertawa.

Awal perjalanan salah satu desa binaan PT. Telkom, Tbk ini dalam memperoleh penghargaan Menakertrans bermula dari hubungan baiknya dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Kab. Jember. “Ketika BLK Jember mau mengadakan pelatihan dan membutuhkan 60 orang misalnya, karena perangkat desanya sudah sarjana semua, jangankan 2 hari, sehari saja sudah kami kirim nama-nama yang ikut pelatihan itu,” jelasnya.

“Mungkin BLK merasa enak di Tutul, potensi desa juga memadai, kami dapat pelatihan-pelatihan, kemudian BLK Jember lapor ke provinsi, bahkan ketika pelatihan ke 2 atau 3 kalinya BLK provinsi ke sini untuk membuka pelatihan,” tambah istri dari M. Asmuni, SH ini.

Tasbih dan Manik-Manik Rambah Luar Negeri

Imda Handicraft merupakan salah satu industri handicraft yang ada di Desa Tutul.Usaha kerajinan yang dimiliki pasangan suami isteri, Imron Pribadi dan Ida Giawati ini menjadi salah satu tempat yang dikunjungi Menakertrans, Muhaimin Iskandar awal tahun 2013 silam. Kunjungan yang dilakukan Menakertrans ini terkait dengan pencanangan Desa Tutul sebagai salah satu Desa Produktif Nasional.

Ida Giawati—yang akrab disapa Ida—mengaku bisnisnya handicraft-nya ini dijalani setelah trial and error pada bisnis-bisnis lainnya. Bersama dengan suaminya yang sama-sama berlatar belakang pendidikan hukum, ia mendirikan usaha bernama Imda Handicraft, yang merupakan akronim dari nama mereka (IMron dan ImDA), dan melakukan pemasaran secara offline dan online. Sedari awal, ia dan suaminya berniat memperkenalkan desanya melalui kerajinan-kerajinan yang dihasilkan usahanya.

Kerajinan yang digarap Imda Handicraft tidak hanya tasbih saja, gelang, tongkat, kalung, manik-manik, dan berbagai macam kerajinan lainnya. “Tapi biasanya kami pesanan, jadi nanti contohnya bagaimana, kami buat seperti itu. Kalau yang tidak ada contohnya, biasanya saya yang desain, ya seperti yang ada di website itu,” ujar perempuan berkacamata ini.

Baca Lagi kabau-kacamata-dari-papan-skateboard-bekas/

Dari Sentra Handicraft menjadi Desa Produktif Nasional  Pangsa pasar Imda Handicraft terbilang berskala internasional. Setiap triwulan sekali usaha ini rutin mengirim pesanan ke Pakistan berupa tasbih dan Korea berupa gelang-gelangan, dan ke Singapura mengirim tongkat.

Dulu dari Korea pernah ada yang memesan stempel pribadi. “Tapi kemudian saya stop, soalnya mereka maunya kita kirim terus dikasih logo sana,” tuturnya sambil menunjukkan beberapa stempel yang diretur. Kini ia sengaja menjadikannya sebagai pajangan saja.

Dari sekian banyak produk yang digarapnya, kerajinan berbahan dasar kayu Kaoka dan Gaharu mempunyai peminat yang paling banyak. Bahan dasar kayu Kaoka ia ambil dari Timur Tengah. “Tapi kami ambilnya di Surabaya, di sana ada importirnya sendiri. Kalau Gaharu kami ambil dari Kalimantan dan Papua.” Selain itu, ia juga menerima pesanan yang terbuat dari kayu lainnya. “Kalau dari lokal, biasanya pesan kayu yang bertuah, seperti kayu Nogosari,” ucapnya.

Menjalankan bisnis bersama dengan suami membuat Ida membagi tugas. Ia bertanggung jawab pada produksi, sedangkan suaminya, Imron bertanggung jawab pada pemasaran.

Pekerjaan suaminya di perusahaan air mineral memiliki link cukup banyak, dan hal ini sangat mendukung pemasaran Imda Handicraft di awal berdirinya. Di awal usahanya, produk-produk yang dihasilkan Imda ditawarkan ke teman-teman Imron, hingga kemudian mempunyai langganan dari luar negeri.

Kini ia punya belasan karyawan yang stay di rumahnya, dan beberapa pekerja lain yang tidak menetap. Gaji untuk pekerjanya bervariasi tergantung tingkat kesulitan, mulai 20 ribu rupiah, hingga 40 ribu rupiah yang semuanya dibayarkan tiap minggu. Di samping itu, karyawan yang bekerja di rumahnya juga mendapat fasilitas Jamsostek. “Soalnya yang di rumah itu kan harus diawasi benar, perlu ketelitian. Kalau yang tidak di rumah tidak begitu perlu diawasi, juga jam kerjanya bebas, tidak seperti yang di sini,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember ini.

Ida mengungkapkan bahwa konsumennya lebih banyak dari online. “Biasanya online dulu, baru kemudian datang. Itu yang jauh-jauh begitu. Kalau offline hanya sekitar Jatim saja,” katanya menjelaskan. Kini omset yang diperoleh usaha yang dijalankannya mencapai kisaran Rp 25-30 juta perbulan.  Dari Sentra Handicraft menjadi Desa Produktif Nasional 

jasa seo dan internet marketing