Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha

jasa seo dan internet marketing

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha | Jika anda sedang bermalas-malasan untuk membangun sebuah usaha, anda perlu berkaca pada perempuan satu ini. Perempuan yang walau secara fisik tidak sempurna namun hal tersebut tak mengurangi semangatnya untuk menjadi wirausahawati mandiri.

Keterbatasan yang dimilikinya tak mampu membendung semangatnya untuk memulai usaha dari nol dan bekerja keras untuk menggapai kesuksesan. Dikenal dengan mbak Irma, perempuan yang memiliki keterbatasan fisik namun tetap luar biasa dan bahkan bermental baja. Siapa dan bagaimana kisah sukses Irma Suyanti? Simak ulasannya berikut ini.

Siapa Irma Suyanti?

Irma Suyanti. Terdengar begitu asing memang, tak banyak media yang memberitakan bahwa masih banyak orang yang memiliki keterbatasan fisik namun masih tetap berjuang hingga sukses. Irma Suyanti tinggal di Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, di Jawa Tengah. Sekalipun sekarang tinggal di Kebumen, namun kampung halaman Irma Suyanti adalah di Semarang. Beliau lahir di Semarang, 1 Januari tahun 1975.

Kini, Irma Suyanti merupakan pengusaha usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM dengan membuat karpet sebagai komoditinya. Usahanya didirikan pada tahun 1999 setelah ia menikah. Dan saat ini beliau memiliki kurang lebih 2.500 orang karyawan. Dari seluruh total karyawannya, ada kira-kira 150 diantaranya adalah penyandang cacat.

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha

Mbak Irma Suryati memang merupakan seorang penyandang cacat, beliau mulai mengalami kelumpuhan ketika balita, umur 4 tahun karena polio. Sejak balita itu Irma Suryati mengalami layu kaki. Walaupun masih dapat berjalan normal hingga sekolah menengah atas namun kaki Irma mudah lemas.

Bila tersenggol akan langsung terjatuh. Sejak kala itu ayahnya menyuruh Irma untuk menggunakan tongkat apabila berjalan, dan pemakaian tongkat itu hingga kini. Karena kondisi kakinya itulah yang akhirnya mendorong Irma untuk melakukan sesuatu yang berharga juga berarti bagi dirinya sendiri juga bagi orang lain.
Langkah hidupnya menuju usia dewasa merupakan kisah panjang dan pasti penuh perjuangan, dua kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan orang normal. Mbak Irma Suryati telah menikah dengan Agus Priyanto yang juga seorang penyandang cacat kaki. Mereka berdua berkolaborasi untuk membuktikan bahwa masih ada harapan untuk selalu bisa sukses dan selalu ada celah yang dapat memberikan berkah juga peluang di masa depan. Dan pasangan tersebut telah berhasil membangun usaha kerajinan keset dengan modal kain-kain sisa alias perca.
Kini, Mba Irma Suryati yang merupakan alumni dari SMAN 1 Semarang itu telah menyandang berbagai macam penghargaan. Penghargaan yang diterima antara lain adalah Wirausahawati Muda Teladan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2007), Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen (2008), dan Penghargaan dari Jaiki Jepang, khusus untuk orang cacat. Dan yang terakhir adalah penghargaan dari SCTV Award 2012.

Penghargaan – penghargaan yang diraihnya memang layak diberikan karena atas kesungguhan, kesederhanaan, keuletan dan sikap optimis yang dimiliki Irma Suryanti mampu menginspirasi banyak orang. Mampu mengubah suatu hal yang biasa menjadi luar biasa merupakan pekerjaan atau lebih tepatnya kebiasaan orang kreatif. Maka Mbak Irma Suryanti layak dinobatkan sebagai Kartini Update di Jaman Ekonomi Kreatif sekarang ini. Bahkan Irma sering kali menjadi motivator untuk memberikan motivasi serta pembelajaran berharga di perguruan tinggi, Irma pernah ke Unsoed dan juga ke Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kisah Sukses Irma Suyanti

Kisah sukses Irma Suyanti juga dimulai dari nol. Seperti umumnya penyandang cacat lainnya, Irma seringkali mendapat perlakuan diskriminatif dan tidak sebanding dengan yang lainnya karena kekurangan dirinya, dipandang sebelah mata, dihina, direndahkan hingga diasingkan merupakan hal yang sering diterimanya.

Namun semangatnya yang terus menyala, membuat Irma Suyanti menjadi seorang perempuan yang tangguh. Irma percaya dengan kekurangan tubuh yang ia miliki tak lantas menjadikan dirinya untuk tidak dapat berhasil.  Ia sangat percaya bahwa jika Tuhan mengijinkan maka tidak ada yang tidak mungkin.
Awal mula bisnis keset ini hanya digunakan untuk kalangan sendiri. Namun karena karya kesetnya mulai dilik orang, pasar kecil mulai terbentuk. Keputusan untuk menjadi seorang pengrajin keset semakin kekeh saat ia menikah dengan Agus Priyanto. Suaminya juga seorang penyandang cacat dan sangan jago melukis. Mereka berdua akhirnya sepakat untuk membuka usaha kecil pembuatan keset pada 1999 dengan dibantu oleh 5 karyawan.
Awalnya, usahanya memang masih dijalani di Semarang, di rumah orang tua, dan ketika usaha mereka mulai berkembang, pada tahun 2002, mereka pindah ke Kebumen, Kota kelahiran Agus. Pasangan luar biasa ini sudah mampu membeli rumah di Jalan Karang Bolong kilometer 7, Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen. Dan dari rumah itu, Irma juga suaminya mengendalikan usaha karpet tersebut.
Setelah pindah ke Kebumen, Irma merasa tak sreg dengan usaha yang hanya sedekarnya. Iapun memutuskan untuk mendaftarkan usahanya sehingga memiliki badan hukum yang jelas. Usahanya dilabeli Usaha Dagang Mutiara Equipment. Selain itu, Mbak Irama juga mulai membentuk Pusat Usaha Kecil Menengah Penyandang Cacat.
Pembentukan Pusat Usaha Kecil Menengah Penyandang Cacat awal mulanya memiliki kendala, karena menurutnya sangat sudah mengorganisasi orang. Namun berkat kegigihan yang dimilikinya, ia mulai mendatangi para penduduk door to door untuk mendorong para ibu menjadi lebih produktif, serta mengajari ibu-ibu untuk membuat keset sendiri. Sudah bisa dipastikan, sinisme dan juga cibiran banyak dilayangkan orang padanya, mengingat dia adalah orang yang cacat.

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha , tak membuatnya putus asa, dan ia berhasil. Iema berhasil mengajak beberapa ibu rumah tangga belajar untuk membuat keset. Ibu-ibu tersebut mendapat pasokan bahan baku juga mesin jahit dari Irma. Tanpa diduga-duga, minat ibu-ibu lainnya semakin tinggi, pada 2003 akhirnya Irma membuat koperasi simpan pinjam yang difungsikan untuk menampung 1.600 pembuat keset hasil binaannya.

Para anggota ini tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Kebumen. Lambat laun, usaha keset ini merambah ke Banyumas dan juga Kota Solo. Bahkan Selain menggandeng PKK, ia juga menggandeng kelompok waria dan pekerja seks komersial di Purwokerto. Kini ada 20 waria dan pekerja seks komersial yang sudah dapat membuka gerai di perumahan Limas Agung, Purwokerto.

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha, bisnis oleh orang cacat, keberhasilan usaha oleh irma suyani, usaha dan bisnis karpet oleh pengusaha cacat, inspirasi usaha terkini

Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha, bisnis oleh orang cacat, keberhasilan usaha oleh irma suyani, usaha dan bisnis karpet oleh pengusaha cacat, inspirasi usaha terkini

Dalam strategi pemasaran, Ia telah mengandalkan 15 orang penjual. Ia juga menitipkan keset-kesetnya di gerai-gerai yang tersebar di banyak kota. Salah satunya adalah di showroom milik Kementerian Pemuda dan Olahraga di Jakarta lhoo. Bahkan selain di dalam negeri, ia mengaku telah memasarkan produknya ke luar negeri, seperti Austarlia, Jerman, Jepang, juga Turki. Dari hasil penjualan ini, setiap bulannya ia mendapatkan omset Rp 40-50 juta dari 42 macam keset yang diprodukdinya. Di pasaran, harga satuannya 15 ribu untuk pasar dalam negeri dan 35 ribu untuk pasar asing.
Hingga saat ini, Irma juga telah mengembangkan usahanya seperti dengan membuat kotak tisu dari lidi. Ia juga membuat desain sajadah dari tikar pandan. Ia juga telah membangun rumah belakang dengan ukuran sekitar 7 m x 9 m untuk menampung para penyandang cacat. Mereka akan turut diberikan modal bekerja sebagai pengrajin dan diberikan tempat menginap, Irma Suyanti Penyandang Cacat yang Sukses Berwirausaha

jasa seo dan internet marketing