Beberapa Faktor yang Membuat Bisnis Bisa Gagal

“Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga” begitulah kata pepatah. Di dalam dunia bisnis pepatah ini juga berlaku, artinya karena kesalahan-kesalahan kecil dan faktor-faktor yang sepele dapat menjadi penyebab rusaknya sebuah bisnis, bahkan menjadi penyebab kebangkrutan.

Ironisnya, justru faktor-faktor yang sepele ini banyak diabaikan oleh para pebisnis pemula. Padahal, jika hal sepele tersebut tidak ditangani secara serius, hampir bisa dipastikan bisnis yang Anda rintis dengan susah payah akan hancur hanya dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.

Beberapa penyebab yang membuat hancurnya bisnis tersebut diantaranya adalah:

  1. Melupakan Produk Lama

Mencari produk baru sebagai varian memang sangat disarankan, utamanya jika produk lama mengalami kelesuan. Tetapi jangan lantas meninggalkan produk lama begitu saja, karena dengan seringnya berganti-ganti produk tanpa mempertahankan produk yang lama, justru dapat membuat konsumen bingung terhadap identitas bisnis Anda.
 
Selain itu, tidak semua konsumen menolak produk lama yang Anda hasilkan atau sebagian konsumen sebenarnya masih menyukai produk lama tersebut hanya saja ada beberapa faktor yang membuat mereka meninggalkan produk tersebut untuk sementara waktu.
 

  1. Administrasi Tidak Tertata

Satu-satunya cara untuk dapat memahami kondisi keuangan bisnis Anda adalah dengan membaca laporan keuangannya. Karena itu, catat setiap transaksi sekecil apapun. Sayangnya tertib administrasi ini kerapkali dilupakan para pebisnis pemula, sehingga sulit untuk mendeteksi keluar-masuknya uang yang berdampak pada sulitnya mengevaluasi perkembangan bisnis yang Anda lakukan.
 
Menjadi lebih baik lagi jika memanfaatkan teknologi untuk mencatat keluar-masuknya uang, karena saat ini sudah banyak software yang dapat diinstal di perangkat komputer atau laptop untuk membantu memanage keuangan perusahaan, bahkan tidak sedikit yang berbentuk aplikasi untuk diinstal di perangkat smartphone.
 

  1. Mengabaikan Pegawai

Awal berdiri bisnis yang Anda geluti mungkin mampu Anda jalankan sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi seiring dengan berkembangnya bisnis tersebut, kehadiran para pegawai mutlak dibutuhkan. Keberadaan pegawai ini jangan pernah disepelekan, karena berkaitan erat dengan produktifitas dari bisnis yang Anda geluti. Untuk itu, rekrut pegawai yang memiliki kompetensi dan pengalaman lebih, dan jangan hanya menilai dari kemampuan akademiknya saja.
 
Tidak cukup hanya itu, Anda juga harus menciptakan iklim  kerja yang kondusif dan nyaman, menghargai prestasi kerja serta memperhatikan kesejahteraan mereka. Jika pegawai merasa nyaman dalam bekerja, jika apa yang mereka kerjakan dihargai dengan sepadan dan jika kesejahteraan mereka terpenuhi, maka dengan sendirinya produktifitas kerja akan meningkat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
 
Sebaliknya, jika lingkungan kerja sudah tidak nyaman, pekerjaan tidak pernah dihargai dan kesejahteraan tidak terpenuhi, bukan saja produktifitas kerja mereka akan menurun tapi juga ada kemungkinan mereka akan hengkang dan beralih profesi. Padahal ada kemungkinan mereka sebenarnya memiliki potensi hanya saja Anda tidak dapat memberdayakan.
 

  1. Tanpa Promosi

Tanpa melakukan promosi, mustahil bisnis yang Anda geluti mendapatkan tempat di hati pelanggan, Untuk itu, sekecil apapun bisnis tersebut, usahakan untuk terus berpromosi. Bentuk dan caranya bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan, karena promosi tidak harus butuh modal yang besar, lewat media sosial, seperti facebook dan twitter misalnya.
 
Bahkan dengan cara-cara tertentu, Anda juga bisa mengkondisikan bisnis Anda untuk dipromosikan dari mulut ke mulut oleh para customer, salah satu caranya adalah memberikan kepuasan kepada konsumen.
 

  1. Tidak Memiliki Dana Cadangan

Harus diingat bahwa tidak selamanya bisnis yang Anda jalani mengalami perkembangan. Adakalanya berhenti di tempat, atau bahkan goyah karena berbagai sebab. Karena itu, harus selalu Anda siapkan dana cadangan, guna mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan. (*)
 

Kenapa Kerja Lembur Harus Dihindari?

 
Pada saat memulai bisnis, kerja lembur merupakan hal yang lumrah bagi seorang pengusaha. Namun, ketika perusahaan sudah berjalan dengan stabil, usahakan untuk menghindari kerja lembur.
 
Menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan urusan bisnis, memang merupakan kewajiban jika ingin bisnis yang dijalankan dapat berkembang dengan pesat.
 
Tapi, jika waktu yang dihabiskan untuk bekerja melebihi waktu normal dan hal tersebut terus menerus dilakukan, dampaknya justru negatif.
 
Dampak negatif tersebut tidak hanya bagi kesehatan tubuh Anda, tapi juga berdampak negatif bagi kesehatan bisnis yang Anda jalankan. Mengapa?
 

Merusak Produktifitas dan Kreatifitas

Jangan dikira dengan menambah jam kerja secara berlebihan dapat meningkatkan produktifitas kerja, bisa jadi malah sebaliknya.
 
Secara matematis, penambahan jam kerja memang menjadikan kesempatan untuk menyelesaikan urusan bisnis menjadi bertambah panjang. Namun, panjangnya tambahan waktu tidak selamanya berbanding lurus dengan hasil kerja.
 
Otak yang dipaksa terus menerus untuk bekerja pada batas tertentu akan mengalami penurunan kinerja, sehingga sulit untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Akibatnya, waktu kerja akan terbuang percuma.
 
Lebih parah lagi, jika karena kurang fokus membuat pekerjaan yang diselesaikan saat lembur  banyak terjadi kesalahan. Sehingga esok harinya harus membuang banyak waktu karena mengulang dan membenahi pekerjaan tersebut.
 
Kerja lembur juga membuat kreatifitas menurun, karena kreatifitas hanya dapat dibangun pada saat kondisi tubuh dalam keadaan bugar dan otak dalam keadaan fresh.
 
Jika kreatifitas menurun inovasi pun sulit dilakukan, padahal inovasi sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah usaha.
 

Tanda Kedisiplinan Menurun

Terkadang kerja lembur dilakukan bukan karena tuntutan pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena menunda pekerjaan yang semestinya dapat diselesaikan pada jam kerja.
 
Siapapun pasti sepakat bahwa menunda pekerjaan merupakan kebiasaan buruk. Namun hal tersebut seringkali diabaikan dengan bersikap santai pada jam kerja yang membuat pekerjaan tidak selesai dan harus diselesaikan diluar jam kerja.
 
Menurunnya tingkat kedisiplinan tersebut wajib disikapi dengan membangun komitmen untuk selalu bekerja tepat waktu, tidak menunda-nunda pekerjaan dan tidak membuang waktu dengan percuma pada saat jam kerja sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
 
Dengan memiliki kedisiplinan kerja, selain produktifitas dapat terjaga, juga berdampak positif pada keseimbangan pekerjaan dan hidup Anda.
 

Menjadi Beban Karyawan

Jika dalam menjalankan bisnis Anda dibantu oleh karyawan, kebiasaan kerja lembur yang Anda lakukan bisa menjadi beban tersendiri bagi karyawan.
 
Sebab belum tentu mereka bersedia bekerja di luar jam kerja, tapi karena posisinya sebagai karyawan membuatnya harus mengikuti apa yang Anda kerjakan.
 
Apabila hal tersebut terus menerus dilakukan, bukan tidak mungkin produktifitas kerja karyawan mengalami penurunan. Hal ini dapat berdampak buruk bagi perkembangan bisnis. Setidaknya berdampak buruk pada keuangan perusahaan karena harus dikeluarkan untuk membayar gaji lembur karyawan.
 
 
baca juga
Tips Sukses Membuka Bisnis Belanja Online
Tips Mengatur Keuangan Perusahaan
1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu
 

Kehilangan Waktu untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Banyaknya waktu yang tersita untuk kerja lembur, membuat Anda akan kehilangan waktu untuk bersantai, berkumpul bersama keluarga, berolahraga, menikmati hobi serta aktifitas lain untuk menikmati hidup.
 
Padahal meluangkan waktu untuk diri sendiri dengan terlepas dari rutinitas kerja sangat dibutuhkan. Disaat itu Anda bisa melakukan refleksi, belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan besosialisasi sebagaimana mestinya.
 
Cobalah untuk berhenti dari kebiasaan bekerja melebihi batas waktu dan rasakan perubahan yang terjadi. Maka hampir dapat dipastikan  kualitas dari kehidupan pribadi dan kualitas kerja Anda akan mengalami peningkatan. (*)

You cannot copy content of this page