Home Bisnis UKM Kini Belanja Sayur pun Bisa Dilakukan Secara Online

Kini Belanja Sayur pun Bisa Dilakukan Secara Online

3
0

bisnisumkmonline.com Tren startup saat ini memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan, termasuk melakukan transaksi jual beli.

Bahkan tak hanya produk kering, produk segar pun dapat dijual belikan melalui online. Tukangsayur.co merupakan salah satu startup yang mengambil peluang di bisnis belanja sayur online tersebut.

Menurut founder tukangsayur.co, Chelly Triwibowo, ia melihat peluang bisnis belanja sayur online dari pengalaman pribadi.

Sulitnya mendapatkan sayur segar bagi warga perumahan membuatnya berpikir untuk membuat jasa pemesanan dan antar belanja kebutuhan sehari-hari. Apalagi di kota-kota besar, terutama Jabodetabek, sebagian besar ibu rumah tangga tergantung pada tukang sayur keliling karena jarak pasar yang jauh.

“Di perumahan memang ada tukang sayur keliling tapi sering kali sayuran yang tersedia tidak sesegar belanja di pasar bahkan kadang tidak dapat sayur yang ingin kita masak karena hanya tersisa beberapa sayuran saat sampai di rumah kita,” ujarnya dilansir peluangbisnis.kontan.co.id.

Chelly memulai bisnis belanja sayur online tersebut pada bulan September tahun 2016 lalu. Ia bekerja sama dengan beberapa tukang sayur di beberapa wilayah. Produk yang dijual merupakan sayur, buah, daging, bumbu dan kebutuhan sehari-hari lain yang di jual di pasar tradisional.

Meski baru setahun beroperasi, tukangsayur.co telah memiliki pelanggan yang tersebar di 70 persen wilayah Jabodetabek.

Masing-masing area memiliki sedikitnya 30 tukang sayur yang siap menerima pesanan dan mengirimkannya ke alamat tujuan. Untuk sistem pembayarannya pun sangat mudah.

Pemesan bisa membayar secara cash on delivery (COD) ketika belanjaan telah tiba. Uang cash diserahkan langsung kepada partner tukang sayur yang mengantarkan barang belanjaan.

baca juga

Banjir Pesanan

Tukangsayur.co mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama ibu rumah tangga. Chelly mendapat banyak pesanan via aplikasi tukangsayur.co yang tersedia untuk Android dan iOS.

Ia mengungkapkan, bahwa order yang masuk mencapai 650 pesanan dalam satu bulan. Transaksinya pun antara Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu.

Banyaknya order tersebut menunjukkan adanya peluang yang sangat besar bagi tuangsayur.co. Chelly pun bersama timnya terus mengembangkan startup tersebut, terutama dalam hal pelayanan dan jumlah produk.

Ia menargetkan adanya seribu item yang ditawarkan karena saat ini baru ada 320 item dalam galeri produk tukangsayur.co.

Tak hanya itu, Chelly pun berpikir untuk mengembangkan jenis produk yang dijual. Ke depan, tak hanya produk pasar saja yang ditawarkan melainkan pula produk-produk dari UMKM.

“Ke depan akan ada produk UKM juga, misalnya produsen keripik bisa kerja sama dengan menjual produk mereka di Tukangsayur.co,” tuturnya.

Chelly menetapkan margin 5 persen hingga 10 persen saja dari produk yang terjual. Dari margin tersebut, pihaknya hanya mengambil 20 persen saja dari laba partner.

Selain itu, jasa layanan antar dibebankan pada pemesan namun hanya dengan membayar Rp 10 ribu saja.

Biaya jasa antar ini kemudian dibagi antara partner tukang sayur dan tukangsayur.co. Persentase yang didapat tukang sayur sebesar 80 persen dari biaya jasa antar tersebut.

baca juga

Partner Tukang Sayur

Tentu membangun bisnis startup tidaklah selalu berjalan mulus. Meski banjir pesanan, Chelly mengaku kesulitan dalam merekrut partner tukang sayur. Menurutnya, sebagian besar tukang sayur memiliki kesulitan dalam hal penggunaan smartphone.

Alhasil, partner tukangsayur.co justru didominasi masyarakat umum yang bukan berprofesi sebagai pedagang sayur.

“Sementara ini komposisi tukang sayur yang bergabung masih lebih banyak bukan tukang sayur asli, tapi mereka yang ingin mendapat pemasukan tambahan dan bergabung dengan Tukangsayur.co,” ungkapnya.

Karena itulah Chelly terus menggiatkan diri untuk melakukan sosialisasi smartphone dan aplikasi tukangsayur.co kepada para pedagang sayur.

Namun hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat dan memerlukan waktu yang cukup lama. Kendati demikian, hal tersebut sudah menjadi bagian dari bisnis startup yang dirintisnya.