Model Bisnis Xendit hingga Mampu Raih Status Unikorn

Xendit kini dikenal sebagai startup yang mencapai nilai valuasi bisnis sebesar US$1 miliar (Rp14 triliun). Lewat pendanaan Seri C pada September 2021 lalu, perusahaan fintech ini meraih pendanaan sebesar US$150 juta (Rp2,1 triliun) yang dipimpin oleh Tiger Capital Management, dan mengklaim dirinya sebagai unikorn.

Berbeda dari perusahaan fintech lain yang menyasar masyarakat umum, seperti Ovo atau Kredivo, nama Xendit kurang populer di telinga kebanyakan orang. Namun startup penyedia platform pemrosesan transaksi online ini mampu merangkul kalangan bisnis untuk menggunakan layanannya, hingga mampu meraih status unikorn dalam waktu sekitar enam tahun.

Didirikan pada tahun 2015, Xendit fokus kepada segmen business-to-business (B2B) di Indonesia dan Filipina. Para kompetitor Xendit adalah perusahaan penyedia layanan gerbang pembayaran (payment gateway) lain, seperti Cashlez dan Midtrans (yang diakuisisi Gojek).

Xendit adalah startup pertama dari Indonesia yang terpilih untuk mengikuti Y Cobisnisumkmonline.com/nator, program akselerator startup bergengsi yang diselenggarakan di Silicon Valley, Amerika Serikat. Di tengah program inilah, Co-founder Xendit memutuskan untuk melakukan pivot bisnis dari semula layanan remitansi jadi gerbang pembayaran (payment gateway). 

Xendit kemudian mencatatkan pendanaan tahap awal dari Golden Gate Ventures dan Convergence Ventures, diikuti dengan pendanaan Seri A dari Amasia. Pada Seri B yang berlangsung di awal tahun 2021, putaran pendanaan Xendit dipimpin oleh Accel, dan diikuti oleh Y Cobisnisumkmonline.com/nator dan Amasia. 

Model bisnis Xendit

Infrastruktur pembayaran digital yang ditawarkan Xendit bisa diintegrasikan ke produk-produk para pelanggannya tanpa perlu mengubah kode program. Fitur ini memungkinkan para penggunanya untuk segera mengaktifkan layanan gerbang pembayaran pada produk masing-masing hanya dalam empat jam.

Melalui berbagai produknya, Xendit memungkinkan bisnis untuk menerima pembayaran, mencairkan, pencairan gaji, menjalankan e-commerce, dan lainnya. Di tengah lanskap pembayaran yang terfragmentasi di Asia Tenggara, Xendit memungkinkan bisnis untuk menerima pembayaran dari berbagai metode pembayaran, mulai dari debit langsung, rekening virtual, kartu kredit dan debit, eWallet, QRIS, hingga gerai ritel.https://flo.uri.sh/visualisation/7534226/embed

Xendit mengklaim pendapatan perusahaannya mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 700 persen dalam 5ima tahun terakhir. Perusahaan yang sering disandingkan dengan Stripe ini mengaku sudah memproses transaksi dengan total senilai US$6.5 miliar (Rp91 triliun).  

“Ekspansi ke Filipina menjadi nilai tambah bagi Xendit di mata para investor. Dengan topografi dan karakteristik market yang mirip dengan Indonesia, pasar Filipina juga turut menyumbangkan 10 persen hasil pertumbuhan month-to-month berbarengan dengan Indonesia,” jelas Tessa Wijaya selaku COO Xendit.

Tessa juga menyebutkan bahwa keputusan melakukan ekspansi ke Filipina ikut membantu perusahaan menggapai status unikorn. “Di [pendanaan] Seri C kemarin, investor yang kembali bergabung dan ikut mendanai menilai bahwa Xendit mampu untuk menaklukkan pasar di luar Indonesia,” ujar Tessa.

“Xendit selalu mengupayakan untuk benar-benar melakukan penetrasi pasar yang sesuai dengan karakter demografi dari target pengguna di negara tersebut,” ujar Tessa. “Di Filipina pun, kami memastikan ada keberadaan tim operasional yang merupakan orang-orang lokal yang mengerti pasar Filipina.”

Menurut Tessa, poin penting ini yang membedakan Xendit dari pemain asing seperti Stripe asal Amerika Serikat dan Razorpay asal India yang dikabarkan juga melirik pasar Indonesia. “Jika pemain asing masuk ke Indonesia, pemahaman lokal yang dimiliki oleh Xendit merupakan kunci keunggulan Xendit yang belum dimiliki oleh kompetitor.”

Di awal pandemi, perusahaan pun memperluas target pengguna layanannya untuk menjangkau para pelaku bisnis di berbagai sektor. “Karena terdapat digitalisasi yang cepat serta signifikan di Indonesia dan Filipina, permintaan infrastruktur pembayaran digital Xendit meluas ke sektor-sektor baru seperti ritel, gim, dan produk digital lainnya, yang berdampak pada pertumbuhan transaksi Xendit,” jelas Tessa.

Selama pandemi, Xendit melihat peningkatan jumlah bisnis yang beralih ke platform online, karena konsumen beralih preferensi untuk berbelanja dan melakukan transaksi secara digital. Faktor ini juga menjadi pendorong percepatan pendanaan di seri selanjutnya, menaikkan valuasi Xendit hingga menembus status unikorn. 

Langkah selanjutnya sebagai unikorn

Xendit mengaku telah meluncurkan berbagai fitur untuk membantu para pelaku bisnis memfasilitasi para pelanggannya dalam hal pembayaran online, sehingga mereka dapat fokus mengembangkan dan memperluas bisnis masing-masing.

“Produk yang kami luncurkan dirancang untuk membantu bisnis menjadi digital, dengan integrasi yang mudah dan cepat bagi bisnis dari penjual perorangan, usaha kecil hingga perusahaan besar,” kata Tessa.

Xendit menyatakan akan terus mengikuti perkembangan zaman dengan memenuhi kebutuhan pasar untuk mobile first. “Kami sedang membangun produk yang akan memberikan nilai tambah bagi proses bisnis bagi merchant dan calon pengguna kami.”

Tessa mengungkap bahwa Xendit berencana untuk melakukan ekspansi selanjutnya ke Malaysia dan Vietnam. Tidak hanya itu, Xendit juga akan lebih fokus membangun produk yang membantu mendukung perkembangan UMKM di Indonesia.

Leave a Comment

error: Content is protected !!